Senin, 09 Oktober 2017

Wisata ke Bawean

Wisata ke Bawean
           
        Mungkin banyak orang yang belum tahu, dimanakah letak Pulau Bawean? Pulau Bawean terletak sebelah utara Pulau Jawa, sekitar 150km utara Pulau Jawa. Termasuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Memiliki luas sekitar 1500km persegi. Dibagi menjadi dua kecamatan, Sangkapura dan Tambak. Berpenduduk sekitar 32.000 jiwa. Orang Bawean terkenal sebagai perantau. Pulau ini sangat terkenal di negara Malaysia dan Singapura, karena banyak warga pulau ini yang bekerja di negara-negara tersebut. Bahkan, beberapa ada yang sudah menetap, tinggal, dan beranak-pinak di negara-negara tadi. Orang Bawean tidak mau disebut Orang Madura, padahal bahasa mereka 90% identik. Mereka juga enggan disebut Orang Jawa, padahal letaknya sangat dekat dengan Pulau Jawa. Mereka memiliki identitas sendiri, sebagai Orang Bawean. Penduduk Bawean 100% beragama islam dan sangat taat, maka tak heran kita akan banyak melihat masjid di seluruh penjuru pulau.
          Pulau Bawean memiliki alam yang sangat indah, alami dan masih jarang tersentuh. Sayangnya, sektor pariwisatanya belum begitu berkembang. Padahal, objek wisata yang berada di pulau ini bisa dibilang cukup lengkap untuk seukuran pulau kecil, dari mulai pantai, dasar laut, danau, air panas, air terjun, fauna khas, hingga wisata budaya, semuanya ada disini !
             Saya pernah mengunjungi pulau ini pada 14 Juli 2017 yang lalu. Dengan mengikuti sebuah Open Trip yang diadakan oleh seorang warga Gresik. Saya berangkat sendirian dari Malang, setelah sebelumnya berhasil menaklukkan Gunung Semeru dan sempat menginap sejenak di sebuah hotel di Malang selama 2 hari. 3 peserta Open Trip lain yang tidak saya kenal sebelumnya sepakat untuk bertemu di Meeting Point Pelabuhan Gresik pukul 8 pagi. Saya sendiri adalah warga Jakarta yang masih buta dengan transportasi di Jawa Timur, terpaksa memberanikan diri untuk “ngebolang” dan nanya sana sini. Dari Hotel, pagi-pagi buta, sekitar pukul 4, saya sudah berangkat dari hotel di bilangan stasiun menuju ke Terminal Arjosari. Kemudian menaiki bus eksekutif trayek Malang – Surabaya dengan harga tiket 25.000 dan jarak tempuh 1,5 jam. Dari Terminal Bungurasih, saya menaiki bus kota P1 tujuan Terminal Osowilangun dengan tarif 8000 rupiah dan jarak tempuh sekitar 1 jam. Setelah sampai di Terminal Wilangon, saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki sebuah angkot berwarna biru telor asin dengan tujuan Pelabuhan Gresik, dengan tarif 8000 rupiah dan jarak tempuh sekitar 40 menit. Angkot menurunkan saya didepan gerbang pelabuhan, dan tinggal jalan sedikit kedalam pelabuhan.
Saya tiba di Pelabuhan Gresik pukul 07:40, dan disana telah menunggu anggota Open Trip yang lain. Sang empunya Open Trip tidak bisa menemani kami, dan nantinya akan ada seorang tour guide yang akan menemani kami selama berwisata di Bawean. Sebenarnya kapal berangkat pukul 10:00, namun diminta untuk datang lebih cepat. Mendekati pukul 10:00, kami pun segera check in menuju ruang tunggu, dan masuk ke kapal.
Suasana di Pelabuhan Gresik
Sebenarnya untuk mencapai pulau ini, bisa lewat jalur laut dan udara. Terdapat kapal ferry maupun kapal cepat yang melayani trayek menuju pulau ini. Untuk jalur laut, terdapat 3 buah kapal yang melayani, namun tidak beroperasi setiap hari. Beberapa diantaranya adalah:

1.Kapal Cepat Ekspress Bahari
Keberangkatan setiap pukul 09:00 pagi, waktu tempuh 3,5 – 4 jam
Trayek Gresik – Bawean (Selasa, Kamis, Minggu)
Trayek Bawean – Gresik (Sabtu, Senin, Rabu)
Harga tiket :
-          Ekonomi : Rp 132.500
-          Eksekutif : Rp 146.500
-          VIP            : Rp 162.500

2. Kapal Cepat Natuna Ekspress
Berangkat setiap pukul 09:00, waktu tempuh sekitar 4 – 5 jam
Trayek Gresik – Bawean (Senin, Rabu, Sabtu)
Trayek Bawean – Gresik (Selasa, Kamis, Minggu)
Harga tiket :
-          Ekonomi : Rp 132.500
-          Eksekutif : Rp 146.500
-          VIP            : Rp 162.500

3. Kapal Ferry Gili Iyang
Waktu tempuh sekitar 8-10 jam
Gresik – Bawean: Jumat pukul 21:00
Bawean – Gresik : Jumat pukul 09:00
Paciran – Bawean: Rabu dan Minggu pukul 21:00
Bawean – Paciran : Sabtu dan Senin pukul 21:00
Harga tiket :
-          Dewasa     : Rp 76.000
-          Anak-anak : Rp 59.000

Untuk jalur udara, hanya terdapat satu maskapai yang melayani penerbangan ke pulau ini dari Bandar Udara Juanda di Surabaya menuju Bandar Udara Harun Thohir di Tambak, Bawean dan juga tidak beroperasi setiap hari, hanya beroperasi tiga kali seminggu. Penerbangannya pun hanya menempuh waktu 45 menit.
Jadwal penerbangan :
-          Selasa :
Surabaya – Bawean (09:25 – 10:10)
Bawean – Surabaya  (10:55 – 11:40)
-          Rabu   :
Surabaya – Bawean (09:55 – 10:40)
Bawean – Surabaya (11:25 – 12:10)
-          Kamis :
Surabaya – Bawean (09:25 – 10:10)
Bawean – Surabaya (10:55 – 11:40)
Harga tiket :   
-          Surabaya-Bawean : Rp 339.200
-          Bawean-Surabaya : Rp 264.200

            Saya sendiri waktu berangkat menaiki kapal cepat Ekspress Bahari dari Pelabuhan Gresik, berangkat dari Gresik pukul 10:00 dan tiba di Bawean pukul 13:30 (3,5 jam perjalanan laut). Setibanya di Dermaga Pelabuhan Bawean, kami langsung disambut oleh Tour Guide, yang juga telah menyediakan sepeda motor sewaan untuk kami pakai berkeliling pulau. Setelah itu, kami check-in sejenak di hotel yang letaknya sangat dekat dengan dermaga untuk makan dan menaruh barang. Hotel ini termasuk biasa saja, hanya kamar dengan kipas angin, serta sebuah TV dan kamar mandi yang digunakan bersama, tarifnya pun cukup murah, hanya 85 ribu untuk semalam menginap.
Selamat Datang di Pulau Bawean

            Setelah selesai, kami lansung bergegas menuju ke Penangkaran Rusa Bawean (Axiis kuhlii). Letaknya sekitar 15 menit bermotor dari penginapan kami. Jalanan di Bawean tidak beraspal, namun bentuknya kon-blok dan sempit, hanya cukup dilewati oleh satu mobil atau dua motor. Penangkaran rusa bawean ini dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Kabupaten Gresik. Terdapat beberapa rusa, sekitar 30 ekor yang ditangkarkan didalam sebuah kandang yang cukup besar. Kamipun sempat memberi makan rusa dengan rumput segar. Rusa Bawean (Axis kuhlii) merupakan hewan endemik yang berasal dari Pulau Bawean. Pulau Bawean sendiri letaknya di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Jenis rusa ini merupakan rusa yang populasinya semakin langka dan terancam kepunahan. Rusa Bawean memiliki tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan rusa jenis lainnya.
Rusa Bawean  mempunyai tinggi tubuh antara 60-70 cm dan panjang tubuh antara 105-115 cm. Rusa ini mempunyai bobot antara 15-25 kg untuk rusa betina dan 19-30 kg untuk rusa jantan. Selain itu, ciri lain dari rusa ini adalah memiliki ekor sepanjang 20 cm yang berwarna coklat dan keputihan pada lipatan ekor bagian dalam. Rusa ini mempunyai kecepatan berlari yang sangat cepat dan cerdik. Pada akhir 2008, peneliti LIPI menyebutkan jumlah populasi Rusa Bawean yang berkisar 400-600 ekor.  IUCN mengatakan hewan endemik yang mulai langka ini diperkirakan berjumlah sekitar 250-300 ekor yang tersisa di habitat asli. Semakin langka dan berkurangnya populasi Rusa Bawean dikarenakan berkurangnya habitat Rusa Bawean yang semula hutan alami berubah menjadi hutan jati yang memiliki sedikit semak-semak. Ini berakibat pada berkurangnya sumber makanan. Oleh karena itu rusa ini dikategorikan oleh IUCN Red List sebagai hewan yang kritis atau CR (Critiscally Endangered) dan CITES juga mengkategorikan hewan ini pada kategori Appendix I. Penurunan jumlah populasi ini mendorong berbagai usaha konservasi diantaranya pembentukan Suaka Margasatwa Pulau Bawean seluas 3.831,6 ha sejak tahun 1979. Selain itu untuk menghindari kepunahan sejak tahun 2000 telah diupayakan suatu usaha penangkaran Rusa Bawean.
Axiis kuhlii
          

Sekumpulan Rusa Bawean 
        Setelah puas bercengkrama dan memberi makan rusa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Ge’eng. Untuk mencapai pantai ini, kita harus melanjutkan perjalanan dengan trekking menyusuri pantai dan semak belukar sekitar 20 menit, karena motor tidak bisa masuk kedalam. Dalam perjalanan, kami melewati Pantai Sumur-sumur. Dinamakan pantai sumur-sumur, karena di dekat pantai ini terdapat beberapa buah sumur dan air tawar yang mengalir, yang kerap dimanfaatkan oleh warga sekitar. Setelah sampai di Pantai Tanjung Ge’eng, kami melihat sebuah batu karang besar berwarna hitam yang tajam. Pantai ini terletak di Timur Laut Pulau Bawean. Memang, pantai ini merupakan sebuah pantai berbatu, yang pemandangannya tak kalah dengan Nusa Penida di Bali. Bebatuan karang yang menghampar, dengan beberapa lubang yang memungkinkan kita untuk melihat laut yang ada dibawahnya. Saat sunset, matahari akan terlihat jelas tertelan lautan. Namun kami memutuskan untuk tidak hunting sunset ditempat ini, karena jika hari sudah gelap, trek yang dilalui saat pulang akan semakin sulit.
Pantai Sumur-sumur

Pantai Tanjung Ge'eng

        Dari Pantai Tanjung Ge’eng, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Pantai Makam Panjang. Dinamakan pantai makam panjang karena, didekat pantai ini terdapat sebuah makam yang berukuran sangat panjang, sekitar 3 meter. Kami memutuskan untuk hunting sunset di pantai ini, dan hasilnya lumayan bagus. Setelah itu, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Sunset di Pantai Makam Panjang
Hari kedua di Bawean, kami bangun pukul 8 dan melanjutkan petualangan kami di Bawean. Hari ini kami akan pergi ke Pulau Gili Noko dan Noko Gili untuk menikmati indahnya pantai pasir putih perawan dan snorkelling. Kami pun menuju ke dermaga kecil tempat penyeberangan ke Pulau Gili, dan menyeberang dengan menyarter sebuah kapal nelayan. Dari Pulau Bawenan ke Pulau Gili memakan waktu sekitar 30 menit. Tiba di Pulau Gili, terdapat sebuah jembatan apung di dermaga, yang menjadi ikon dari pulau ini. Di Pulu Gili ini kami mempersiapkan peralatan untuk snorkelling. Setelah semuanya siap, kami pun berangkat ke spot snorkelling yang terletak tidak jauh Pulau Gili. Terumbu karangnya sangat indah dan masih sangat alami. Namun terumbu karangnya didominasi oleh koral yang keras, tidak ada koral lunak atau anemone yang menjadi habitat Ikan Nemo di perairan ini. Meskipun begitu tetap indah dan mempesona. Sayangnya diantara kami tidak ada yang membawa action cam, sehingga tidak sempat mengabadikan keindahan terumbu karangnya.
Pulau Gili Noko


Jembatan Apung Gili Noko


Setelah bersnorkelling ria, kami melanjutkan perjalanan ke Gili Noko. Noko artinya pulau pasir. Gili Noko berarti sebuah pulau pasir yang berada di dekat Pulau Gili. Gili Noko merupakan spot yang wajib dikunjungi jika kita berwisata ke Bawean. Pasir putih pantainya sangat lembut, gradasi air yang laut yang sangat indah semakin menambah pesona pulau ini. Ditambah lagi saat kami datang, hanya ada kami sebagai pengunjung. Serasa punya private island !!! Jika dilihat dari atas, pulau ini terlihat berbentuk lonjong memanjang, dan akan lebih terlihat saat air laut sedang surut.

Lautan biru

Private Island (Noko Gili)
Puas bermain air laut, kami pun memutuskan untuk kembali ke Pulau Bawean untuk membilas tubuh kami. Kami akhirnya pergi air terjun untuk mencari yang seger-seger, hehe. Air Terjun Laccar menjadi destinasi kami yang berikutnya. Air terjun ini juga harus ditempuh dengan trekking selama sekitar 15 menit. Air terjun Laccar merupakan air terjun tertinggi di Pulau Bawean, dengan tinggi mencapai 30 meter. Debit airnya tergantung dengan musim, jika sedang musim hujan maka debit airnya akan semakin deras, jika sedang musim kemarau maka debit airnya akan semakin sedikit. Kami pun bermain-main di air terjun tersebut sembari membilas tubuh kami dari asinnya air laut.
Air Terjun Laccar

Dari Air Terjun Laccar, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mangrove. Konon katanya, hutan mangrove ini sedang booming di kalangan anak-anak muda dan warga Bawean. Banyak yang sengaja datang kesini dengan membawa makanan kecil untuk berpiknik. Hutan mangrove ini merupakan satu-satunya objek wisata di Bawean yang dikenakan tiket masuk (itupun Cuma 3000 rupiah), sedangkan yang lain gratis tis tis. Sekilas, hutan mangrove ini terlihat seperti yang ada di Pantai Indah Kapuk (PIK) Jakarta, yang sudah terkelola dan tertata dengan baik. Banyak juga dekorasi-dekorasi berupa papan-papan tulisan yang unik. Hutan mangrove ini juga menyediakan bibit mangrove bagi siapapun yang ingin mengadopsi pohon mangrove.
Wisata Hutan Mangrove yang sudah tertata rapi
Berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Selayar. Pantai ini terletak di sebelah tenggara pulau Bawean.  Dinamakan Pantai Selayar karena letaknya berada persis di seberang Pulau Selayar (bukan pulau Selayar yang di Sulawesi Selatan ya, hehe). Kita bis menyeberang dari Pantai Selayar menuju ke Pulau Selayar dengan berjalan kaki saat air laut sedang surut. Kebetulan saat itu hari sudah sore, air laut pun surut dan kami bisa mencoba menyebrang. Terlihat juga warga yang tengah mengumpulkan kerang laut saat air surut. Setelah itu, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat. Malam harinya, kami memutuskan untuk mencari makan di Alun-Alun Bawean. Memang alun-alun tersebut tidak seramai di Pulau Jawa, namun saat kami datang sedang ada rombongan arak-arakan  pengantin.
Pantai Selayar, dan Pulau Selayar diseberangnya

Hari ketiga di Bawean, kami mencoba mengeksplor sisi lain dari Pulau Bawean. Jika kemarin hanya mengeksplor sisi sebelah selatan Pulau Bawean (Kecamatan Sangkapura), kali ini kita akan mengeksplor sisi sebelah utara Pulau Bawean. Pertama-tama, kami menuju ke Pantai Ria. Pantai ini merupakan pantai nelayan tempat kapal nelayan bersandar. Ombaknya tenang karena terletak di teluk, namun didominasi oleh batuaan halus. Pantai ini sudah bisa terlihat dari atas bukit dekat jalan raya.
View Pantai Ria dari kejauhan


Pantai Ria dengan kapal nelayan dan lautnya yang jernih


Selepas itu, kami sempat mengunjungi sebuah tanah lapang yang berhadapan langsung dengan laut, tempat biasanya MUI melaksanakan pemantauan hilal. Dari tempat itu terlihat view pantai dan kapal-kapal yang berlalu-lalang di perairan Bawean. Didekat tempat itu, terdapat sederet fondasi yang terlihat seperti bekas fondasi candi. Tour Guide kami percaya bahwa fondasi ini memang benar-benar bekas sebuah candi, dan dahulu pernah terdapat kerajaan di Pulau Bawean ini. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah air terjun yang dibendung sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah kolam pemandian. Di sekitar air terjun tersebut juga terlihat bekas-bekas fondasi candi. Air terjun ini disebut juga dengan Air Terjun Putri, karena dipercaya merupakan bekas pemandian putri raja. Namun, belum ada penjelasan arkeologis lebih lanjut mengenai hal ini. 
View Laut Bawean


Batu berbentuk fondasi candi

Air Terjun Putri, berbentuk seperti kolam pemandian

Berikutnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Kastoba. Ditengah perjalanan, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Makam Sunan Bonang Bawean.  Menurut kabar yang beredar luas, Makam Sunan Bonang dipercaya terletak di Tuban, Jawa Timur. Namun, masyarakat Bawean percaya bahwa Sunan Bonang meninggal dunia dan dimakamkan di Bawean. Memang terdapat banyak versi mengenai letak makam Sunan Bonang, ada yang bilang di Bawean, Tuban, dan Rembang. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Danau Kastoba.
Makam Sunan Bonang Bawean

Untuk mencapai Danau Kastoba, kita harus trekking mendaki bukit melewati hutan sekitar 30 menit. Danau Kastoba memang terletak diatas sebuah bukit, dan danau ini dipercaya memiliki kedalaman hingga puluhan meter. Mungkin bekas danau vulkanik dari letusan sebuah gunung. Bahkan menurut Tour Guide kami, banyak masyarakat yang percaya jika danau ini bisa tembus ke lautan lepas. Danau ini cukup luas dan dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Airnya terlihat berwarna kehijauan. Setelah turun dari Danau Kastoba, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Candi. Dinamakan Candi karena terletak di Desa Candi, tidak sama sekali ada hubungannya dengan bangunan candi. Saat kami datang, air terjun ini tengah ramai dikunjungi oleh anak-anak kecil sekitar desa yang sedang bermain seluncuran. Memang air terjun ini berbentuk seperti sebuah prosotan alam, anak-anak pun dengan riangnya merosot dan berlompatan dari batu-batuan ke kolam air yang ada di bawahnya. Saya juga sempat mencoba meluncur dari atas batu menyusuri aliran air terjun, rasanya seperti kembali menjadi anak kecil !
Air Terjun Candi (foto diambil setelah anak2 bubar)


Pesona Danau Kastoba

Danau Kastoba


Setelah puas bermain air di air terjun itu, kami memutuskan untuk mampir ke Pantai Labuhan. Pantai ini terletak di sebuah muara sungai. Warna pasirnya agak gelap, tapi teksturnya sangat lembut. Berikutnya, kami bertolak ke Menara Santigi. Menara Santigi merupakan sebuah menara bekas mercusuar yang kini sudah tidak digunakan lagi. Menaranya lumayan tinggi, sekitar 30meter. Kondisi menara ini sudah karatan disana-sini dan sudah sangat rentan. Ditambah lagi dengan angin yang saat itu sedang bertiup dengan kencangnya. Sejatinya, menara ini terdiri dari lima tingkat, namun kami hanya diperbolehkan untuk naik hingga ke tingkat kedua, karena memikirkan faktor keselamatan. Sesampainya diatas menara, pemandangan indah terlihat dengan jelas. Terlihat garis pantai Bawean dengan berbagai gradasi warna biru lautan. Jika sedikit bergeser kearah darat, terlihat hijaunya hamparan sawah dan hutan, serta bukit-bukit yang menjulang dari kejauhan. Sangat sebanding dengan adrenalin dan tenaga yang terkuras saat menaiki menara ini.
Pantai Labuhan yang terletak di muara sungai 

View Pantai Bawean dari ketinggian Menara Santigi

Perbukitan Bawean dari ketinggian Menara Santigi

Puas memandangi Bawean dari ketinggian, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Ebel-Ebel. Pantai ini merupakan sebuah pantai nelayan, banyak terdapat kapal nelayan yang merapat. Saat kami datang, terdapat sebuah kapal dari kayu yang sedang dibuat secara bergotong-royong. Setelah badan lelah dan pegal seharian berkeliling Bawean, kami mencari tempat yang cocok untuk melemaskan kembali urat-urat kami yang telah mengendur. Akhirnya kami memilih Pemandian Air Panas Kepuh Legundi sebagai destinasi berikutnya, untuk berendam di sebuah kolam air panas yang sudah terbangun dan tertata dengan rapi. Biaya masuknya sekitar 10 ribu rupiah per motor. Setelah itu, kita bisa berendam air panas sepuasnya ! Dengan ini, program open trip ini pun selesai.
Pantai Ebel-Ebel

Proses pembuatan kapal kayu di Pantai Ebel-Ebel

Kolam Pemandian Air Panas Kepuhlegundi 

Berendam di kolam air panas Kepuhlegundi

Seharusnya di keesokan hari (hari minggu), kami bisa kembali pulang ke Gresik dengan menaiki Kapal Cepat Natuna Ekspress. Namun, kapal mendadak tidak bisa diberangkatkan karena cuaca buruk. Terpaksa kami harus menunggu sinyal aman dari BMKG setempat, hingga waktu yang belum ditentukan. Alhasil, kami harus menambah lama waktu tinggal kami disini. Kami pun memutuskan untuk menghabiskan waktu di penginapan, dan hanya sesekali keluar untuk mencari makan.
Di hari seninnya, mulai muncul angin segar. Satu persatu kapal ferry dan kapal cepat sudah bisa merapat ke dermaga Pelabuhan Bawean. Namun, kemungkinan besar tidak bisa berangkat tepat pada hari itu juga, dan baru bisa diberangkatkan keesokan harinya (hari selasa). Kamipun harus menunggu satu hari lagi. Sambil menunggu, kita sempat foto-foto di dermaga Pelabuhan Bawean. 
Pelabuhan Bawean

Sunset di Pelabuhan Bawean


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, kapal Natuna Ekspreess yang akan membawa kami pulang ke Pulau Jawa sudah siap sedia. Kapal tersebut penuh sesak dengan orang-orang dan barang-barang. Kapal pun berangkat tepat pukul 09:00, penantian kami pun akhirnya berakhir. Selamat Tinggal, Bawean !!!

Suasana Pelabuhan Bawean sebelum kepulangan
Bawean dari tengah laut




Selasa, 26 September 2017

    Kasepuhan Ciptagelar: Ketika Teknologi Bersinergi dengan Kearifan Lokal







Oleh : Muhammad Irfan

Imah Gede

Leuit
Kasepuhan Ciptagelar merupakan sebuah desa adat yang terletak di Kecamatan Cisolok, Kabupatan Sukabumi, namun wilayah kekuasaannya membentang hingga wilayah Kabupaten Lebak di Banten dan Kabupaten Bogor di Jawa Barat. Termasuk kedalam kesatuan adat Banten Kidul. Merupakan sebuah kampung tradisional yang mengakui kepemimpinan adat setempat diperoleh melalui kekuatan wangsit dan bebendon (pamali/ larangan-larangan) yang berasal dari nenek moyang. Masyarakat adat di kesepuhan ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan diyakini sebagai keturunan Kerajaan Sunda Hindu terakhir di Jawa Barat yang berpusat di Pakuan Pajajaran, Bogor. Memiliki luas wilayah kurang lebih 120.000 ha yang terdiri dari 568 desa dan penduduknya mencapai lebih dari 30.000 jiwa.
Kasepuhan Ciptagelar dipercaya pertama kali didirikan pada tahun 1368. Selama 649 tahun berdirinya, kasepuhan ini sudah mengalami 23 kali perpindahan tempat dan 11 kali pergantian kepala adat (abah). Perpindahan ini terjadi apabila seorang kepala adat mendapatkan sebuah “wangsit” untuk melakukan perpindahan. Pada tahun 1968, kasepuhan ini masih terletak di daerah Sirnaresmi, kemudian pada tahun 1982 berpindah ke daerah Sirnarasa. Pada tahun 1994, kasepuhan ini berpindah ke daerah Ciptarasa. Baru pada tahun 2001, kasepuhan Ciptagelar menempati tempatnya yang ada hingga saat ini. Semenjak kasepuhan masih berada di Sirnaresmi hingga tahun 2007, Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh Abah Encup. Ketika Abah Encup meninggal dunia pada tahun 2007, posisinya digantikan oleh putranya, Abah Ugi.




Masuknya Tekonologi dan Modernisasi


Sekretariat CIGA TV dan RSC FM


Kang Yoyo Yogasmana selaku Ketua Redaksi CIGA TV dan Humas Kasepuhan Ciptagelar 


Di masa kepemimpinan Abah Ugi ini, Kasepuhan Ciptagelar mulai terbuka terhadap teknologi dan dunia luar. Abah Ugi sendiri sebelumnya pernah berkuliah di Bandung, namun keburu dipanggil untuk menjabat mejadi kepala adat. Dimulai dari diintroduksikannya sebuah menara pemancar sinyal telekomunikasi, pembentukan radio dan TV Kasepuhan Ciptagelar (CIGA TV & Radio), hingga bekerjasama untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dan yang terbaru, di Kasepuhan Ciptagelar ini sudah tersedia fasilitas WiFi (walaupun hanya mencakup kompleks utama pemerintahan Kasepuhan, tepatnya di Kampung Ciptagelar).
Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) sudah dicetuskan oleh Abah Encup pada tahun 1998, ketika Kasepuhan Ciptagelar masih bertempat di Ciptarasa. Kemudian ketika tahun 2001 kasepuhan berpindah ke Ciptagelar, pencancangan PLTMH sebagai sumber energi listrik utama semakin digencarkan. Mulai muncul kerjasama antara pemerintah adat desa dengan berbagai pihak untuk melakukan kerjasama dalam pembangunan PLTMH di kawasan Kasepuhan Ciptagelar. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi sendiri berhasil memperoleh penghargaan energi prakarsa kategori perorangan pada tahun 2011 atas jasanya mengembangkan PLTMH di wilayah Kasepuhan Ciptagelar. Hingga saat ini, terdapat sekitar 5 PLTMH yang bisa menghasilkan daya listrik hingga 150 kwh. Dengan daya listrik sebesar itu, bahkan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik harian seluruh wilayah Kasepuhan Ciptagelar, bahkan sampai terjadi overstock listrik.
Pada masa awal kepindahan kasepuhan dari Ciptarasa ke Ciptagelar, masalah telekomunikasi menjadi salah satu hal yang menjadi fokus. Atas dasar itu, diintroduksikanlah sebuah menara pemancar sinyal telekomunikasi di wilayah Kasepuhan Ciptagelar. Pada tahun 2004, atas inisiatif Abah dengan pertimbangan urgensi kebutuhan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar akan informasi, akhirnya dicetuskan terbentuknya RSC (Radio Swara Ciptagelar) 107.7 FM, yang kemudian pada tahun 2008 berkembang juga menjadi CIGA TV. CIGA TV sendiri merupakan akronim dari Ciptagelar TV. CIGA TV beroperasi selama 24 jam, frekuensinya juga cukup menjangkau jauh, hingga menjangkau Malingping (Banten) di arah barat dan Sumedang di arah timur. Konon katanya, peralatan-peralatan radio dan tv ini sebagian besar terdiri dari barang-barang elektronik bekas yang dirakit dan diperbaiki sendiri.



Kearifan Lokal yang Masih Bertahan
Berbelanja di pameran hasil karya masyarakat Kasepuhan Ciptagelar


Pemandangan Kasepuhan Ciptagelar dari atas bukit


Dibalik kemajuannya dalam bidang tekonologi, Kasepuhan Ciptagelar tetap menjalankan ritual-ritual peninggalan leluhur dan menjunjung tinggi kerifan lokalnya. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tiap tahunnya masih rutin mengadakan upacara adat Seren Taun setiap selesai panen. Selain itu juga masih banyak aturan-aturan adat lainnya yang mengatur segala aspek kehidupan warga masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dan hubungannya dengan alam sekitar, seperti adanya hutan larangan, aturan mengenai penanaman padi, dan lainnya. Juga terdapat kearifan lokal khas dari masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang telah diwariskan secara turun temurun dan masih dijalankan dan menjadi pedoman hidup hingga saat ini.
Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sangat bergantung kepada hasil bumi, terutama padi. Oleh karena itu, padi bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar bukanlah sekedar komoditas pangan belaka, namun merupakan sumber kehidupan. Mereka juga memercayai bahwa padi merupakan wujud seorang dewi yaitu Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jika mereka merawat padi dengan baik dari ditabur hingga dipanen, maka Nyi Pohaci Sanghyang akan memberi kesuburan atas hasil panen yang melimpah. Begitu pentingnya padi dalam konsep hidup masyarakat adat Kasepuhan, mereka pantang membuang dan memperjualbelikan padi. Mereka hanya menanam padi titipan leluhur yang berjumlah sekitar 160 jenis varietas asli.  Secara turun-temurun mereka menanam padi menggunakan sistem lahan kering atau huma maupun lahan basah atau persawahan. Dalam menanam padi dan bercocok tanam, terdapat beberapa tahapan yang harus sudah menjadi pakem bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Untuk menghormati alam, penanaman padi dilakukan setahun sekali tanpa pupuk, obat kimia dan pestisida. Setelah panen, lahan akan diistirahatkan. Mereka percaya alam perlu keseimbangan, dengan diistirahatkan maka akan memulihkan lahan agar kembali subur. Dalam menentukan waktu menanam, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar mengacu pada rasi bintang tertentu, jika rasi bintang tersebut sudah muncul, maka proses bercocok tanam dapat dimulai. Proses bercocok tanam padi ini termasuk bagian dari rangkaian kegiatan adat, diawali dengan proses turun nyambut (menggarap lahan yang akan ditanami), tebar (menyiapkan benih padi), ngaseuk (menanam), sapangjadian, prah-prahan, mapag pare beukah, mabay, mipit (menuai padi dengan ani-ani), nyimbur, ngunjal, nutu (menumbuk padi), nganyaran (mencicipi hasil panen pertama), ponggokan (memberikan ruang batas untuk tidak mengolah lahan) dan ditutup dengan Seren Taun yang diadakan setiap bulan Hapit, bulan ke sebelas dalam penanggalan lokal. Berkat kearifan lokal yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tidak pernah mengalami gagal panen, bahkan berlimpah dan menambah jumlah leuit tiap tahunnya.





Seren Taun, sebuah Tradisi Berusia 649 Tahun
Prosesi Upacara Ngadiukeun


Rombongan Rengkong



Seren taun merupakan sebuah ritual yang rutin diadakan setiap masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Ritual ini sudah ada sejak Kasepuhan Ciptagelar pertama kali berdiri pada tahun 1368, dan di tahun 2017 ini telah mencapai ritual yang ke 649 tahun. Seren sendiri berarti seserahan atau menyerahkan, taun berarti tahun. Seren Taun dimaknai warga sebagai upacara penyerahan sedekah (tatali) hasil panen padi selama setahun sebagai rasa syukur atas panen yang berlimpah serta memohon berkah pada Tuhan agar hasil panen tahun mendatang lebih meningkat.
Rangkaian acara seren taun biasanya berlangsung selama 5 hari, dan dimulai dengan berbagai macam hiburan rakyat. Menyambut seren taun, tujuh panggung disekitar Imah Gede menyajikan berbagai hiburan dari yang buhun / lama mulai dari seni jipeng / tanji dan topeng, ujungan, pantun buhun, dogdog lojor / alat musik pukul semacam gendang panjang dan angklung, gondang, seni topeng, hingga kesenian yang umum kita lihat seperti pencak silat, debus, pertunjukan wayang golek dan berbagai tarian. Uniknya, tiap panggung dilengkapi sistem pengeras suara yang hampir sama kuat, seolah berlomba merebut perhatian pengunjung. Di lapangan besar dekat pintu masuk kasepuhan, tersedia sebuah panggung besar yang menampilkan musik dangdut selama semalam suntuk. Sepanjang jalan kasepuhan juga dipenuhi dengan kios-kios dan pasar dadakan yang menjual berbagai macam hal, dari mulai baju, peralatan rumah tangga, makanan, hingga kebutuhan pokok. Pasar dadakan ini hanya ada saat acara seren taun saja. Warga dari berbagai penjuru datang untuk menikmati hiburan yang ada, bukan hanya dari warga Ciptagelar saja, bahkan warga-warga di desa sekitar dan dari luar kota turut meramaikan pesta rakyat ini.
Dari rangkaian 5 hari acara tersebut, terdapat satu hari puncak seren taun. Letusan petasan berantai menandai awal prosesi puncak Seren Taun. Baris Kolot / tokoh masyarakat berada di urutan awal pawai mengelilingi Kasepuhan Ciptagelar melewati deretan leuit menuju ke alun-alun. Barisan yang mengenakan ikat kepala khas Banten, baju hitam polos, tanpa alas kaki itu diikuti oleh kelompok debus, kesenian bela diri Banten yang mendemontrasikan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam. Dibelakangnya, para penari diiringi pemain dogdog lojor, rombongan rengkong / pemikul padi yang mengayun-ayunkan pocong padi pada bambu menimbulkan bunyi-bunyian ritmis, diikuti barisan pengumpul serpihan padi yang tercecer dalam tabung anyaman.
 Puncak acara dari ritual seren taun adalah ngadiuken pare, yaitu memasukkan sepocong pare indung / induk padi dalam Leuit Si Jimat, dilakukan secara simbolis oleh Pemimpin Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi dan istrinya, Emak Alit, dengan diiringi oleh irama angklung, kendang, dan tumbukan alu yang saling bersahut-sahutan. Prosesi ini dimulai dengan pembacaan doa dan mantra melalui pantun seloka yang inti dari isinya adalah bersyukur atas restu alam semesta dan leluhur yang telah menjaga masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Selepas acara ngadiukeun pare, biasanya akan diadakan semacam musyawarah bersama antara warga Kasepuhan dengan para petinggi pemerintahan, baik dari Kabupaten Sukabumi, maupun Kabupaten Lebak. Seringkali juga hadir perwakilan dari komunitas masyarakat yang ada di seluruh nusantara





 Kearifan Lokal dan Konservasi Alam

        Wilayah Kasepuhan Ciptagelar termasuk kedalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang merupakan salah satu kawasan konservasi yang penting di Pulau Jawa bagian barat. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar juga turut serta dalam menjaga hutan, bahkan jauh sebelum wilayah ini ditetapkan menjadi taman nasional. Hutan di wilayah Kasepuhan Ciptagelar dikelompokkan berdasarkan fungsi dan nilai sakral. Batasan memang tidak secara tegas disebutkan, namun umumnya masyarakat memahami karakter zona tertentu. Mereka yang melanggar batasan akan menerima sendiri akibat dari pelanggaran aturan adat tersebut. Dalam bahasa setempat, hutan (hutan adat) disebut leuweung kolot. Masyarakat adat Kasepuhan membagi leuweung kolot ke dalam tiga wilayah. Zonasi yang diterapkan menunjukkan intensitas pemanfaatan yang berbeda secara hierarkis. Zona hutan bagian terdalam memiliki berbagai pembatasan yang sangat ketat dan makna spiritual paling tinggi dibanding dua wilayah lain. Abah memiliki kedudukan interaksi dan peran terkuat dalam hal pengelolaan hutan, termasuk menakar intensitas kemendesakan dalam mengakses kawasan maupun manfaat/fungsi dari setiap zonasi. Zonasi hutan adat terbagi ke dalam hutan titipan, tutupan, dan garapan.
Hutan titipan (leuweng titipan) mempunyai makna sangat sakral/keramat. Hutan titipan menyimpan apa yang dianggap masyarakat adat sebagai warisan leluhur. Meski tak ditegaskan secara jelas apa yang dimaksud warisan, namun di zona inilah keanekaragam hayati masih terjaga dengan sangat ketat. Segala hal yang ada di hutan titipan dilarang untuk diambil, bahkan untuk masuk saja memerlukan syarat dan izin khusus (ritual). Untuk hutan titipan ini ada istilah cikarancang, yaitu semacam “pagar” atau pelindung yang terlihat, tapi tak bisa ditembus.
Hutan tutupan (leuweng tutupan) adalah hutan yang menjadi sabuk bagi hutan titipan dan perantara di antara hutan titipan dan hutan bukaan (zonasi setelah hutan titipan). Meski tak seketat hutan titipan, namun peraturan terhadap pengambilan kayu atau pemanfaatan hasil hutan tutupan juga perlu memiliki izin khusus dari abah. Pemanfaatan hanya diizinkan untuk kebutuhan hidup yang mendesak dan pengambilan material ritual tertentu. Aktivitas perladangan dilarang dilakukan di area ini.
Hutan bukaan (leuweng sampalan) merupakan zona terluar dari hutan adat di mana terdapat permukiman dan garapan berupa ladang/huma dan sawah. Di zona inilah masyarakat Kasepuhan tinggal dan bercocok tanam. Rumah-rumah panggung bermaterial kayu dan ijuk menghiasi wilayah. Meski berada di lapisan paling luar, bukan berarti tak ada aturan adat yang diterapkan. Siapa pun yang hendak mendirikan rumah harus mengantongi izin terlebih dulu.
Kesadaran terhadap hutan begitu lekat pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Hutan adalah kehidupan. Setidaknya metafor itulah yang mereka yakini untuk menggambarkan betapa hutan menjadi begitu penting bagi mereka. Anak-anak telah diajarkan mengenai bagaimana mereka harus merawat hutan, termasuk pantangan-pantangan dan pembagian zona hutan. Sejak dini, mereka diperkenalkan dengan kegiatan menanam pohon sebagai bentuk penghormatan pada alam dan “tabungan” bagi si anak nanti dewasa atau menikah ia membutuhkan kayu untuk membangun rumah sendiri atau kebutuhan lainnya. Pasangan muda atau keluarga yang hendak membuat rumah kayu itu harus menabung pohon. Saat anak lahir, bahkan sebelum lahir, orangtua sudah mulai menanam pohon kayu di talang atau ladang atau di halaman rumah. Mereka yang menebang pohon tanpa izin pun diberikan sanksi adat untuk menanam kembali 10 pohon. Tanaman sirah cai (pohon atau tanaman penyerap air di dekat sumber mata air) tidak boleh dirusak, apalagi ditebang. Segala sesuatu ada izinnya. Bagaimana mereka melakukan permisi untuk menebang pohon melalui ritual adalah cara komunikasi yang menjadi bentuk penghormatan pada alam maupun segala hal yang hidup.


Jalan menuju ke Kasepuahan Ciptagelar yang menembus lebatnya rimba Gunung Halimun


Salah satu sungai yang ada di Kasepuhan Ciptagelar